GIA

Entah mengapa tapi aku sangat membenci gadis yang satu itu. Perawakannya kecil, mungil. Pembawaannya ceria, cuek, tapi juga sopan. Dia baik dan suka berbagi. Dia selalu bersedia membantuku kapanpun aku butuh bantuan. Dia pendengar yang baik. Tapi entah mengapa, aku begitu tidak suka padanya.

Tak ada yang salah dengannya. Apa jangan-jangan aku yang salah? Dia tidak layak dibenci. Dia terlalu baik untuk disakiti. Aku selalu menghindar jika ia mengajakku mengobrol di SMS, dan aku selalu mencari jawaban yang pas untuk sekedar menghentikannya. Sebisa mungkin aku mencoba menghindar.

Aku merasa bersalah, tapi disaat yang sama aku merasa benar. Kadang aku merasa kasihan, tapi aku selalu mencoba untuk tidak peduli. Sungguh, tidak ada yang salah terhadapnya. Mungkin aku yang jahat. Benar-benar jahat.

Di suatu malam tahun baru, ia datang dalam mimpiku. Wajahnya yang ceria, tawanya yang renyah. Aku tidak mudah melupakannya. Aku takut menyakitinya. Aku takut dunia marah karena perlakuan jahatku terhadapnya. Sampai suatu ketika, di akhir bulan Januari yang begitu dingin… Aku telah menyakiti hatinya.

Dia datang saat aku tengah berkerumun dengan teman-temanku. Kami berkumpul, bercanda dan mengobrol tentang banyak hal. Dia datang dan menyapaku. Teman-temanku mengejek-ngejekku, katanya dia menyukaiku. Rasa maluku bertambah besar.

“Kau menyapaku?”bentakku kasar.

“Apa?”matanya membelalak dan dia bertanya lembut.

“Maaf tapi kurasa kau salah orang,”lanjutku, dan semua teman-temanku tertawa. “Hanya temanku yang bisa menyapaku,”

“Tapi aku temanmu,”bisiknya perlahan, tampak bingung dengan situasi ini.

“Yah, well, mungkin cuma kamu yang menganggap begitu. Tapi aku tidak.”

Semua teman-temanku tertawa dan memujiku. Mereka bertepuk tangan atas caraku menolak dia yang katanya sangat keren itu. Diluar dugaan, dia tersenyum, bibirnya bergetar dan tatapannya getir. Airmata tak terbendung. Satu per satu, perlahan butiran airmatanya jatuh. Dia terpaku di tempat, meskipun aku sangat yakin saat itu kakinya sudah ingin berlari kabur saking malunya. Kurasa ia sudah kalah telak, tapi ternyata dugaanku salah.

“Tidak apa-apa jika kau membenciku,”ucapnya pelan. “Tidak apa-apa kalau selama ini kau berpura-pura menjadi temanku. Bahkan kurasa kau mau menerimaku menjadi sahabatmu. Tidak apa-apa jika kau tidak menganggapku, tidak apa-apa jika kau menginginkan aku pergi dari hidupmu. Tapi justru, aku kenapa-kenapa saat aku mengetahui semuanya itu.”

Tawaku berhenti saat itu juga. Aku terkejut dan rasanya menyakitkan sekali. Pipiku seperti tertampar dan wajahku serasa ditendang. Waktu serasa berhenti berdetak dan dunia seakan berhenti berputar. Untuk beberapa saat, aku merasa… sangat jahat. Tiba-tiba waktu seakan berputar kembali, bertahun-tahun yang lalu saat pertama kali aku mengenalnya. Bodohnya aku. Jahatnya aku. Aku sendiri merasa ngeri terhadap diriku sendiri. Jijik. Kurasa aku orang terjahat di dunia. Mengerikan sekali rasanya. Aku tak pernah bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku benar-benar tak dapat menggambarkan perasaanku. Aku yang kalah. Aku terdepak.

Dia berlari dan menangis, tangisnya sangat lembut dan isaknya terdengar menyalahkan diriku. Tangisannya,… tak dapat kulupakan, seperti memberontak dan menampar diriku. Aku benar-benar merasa bersalah.

Tiba-tiba aku tidak lagi membencinya. Tembok kebencian itu langsung runtuh dan aku langsung lega. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku harus minta maaf. Tiba-tiba aku jadi begitu mencintainya. Cinta yang rela, cinta yang tulus, cinta yang tak ingin kulepaskan.

Malam hari itu pikiranku terbang, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Pikiranku melayang saat aku berbuat salah terhadapnya.

George, aku baru saja menyelesaikan ceritaku. Kamu ada waktu membacanya?

Aku tidak suka membaca. Maaf.

George, besok malam Halloween. Ayo pakai kostum yang sama!

Aku tidak bisa. Aku harus pergi bersama teman-temanku.

George, Ibuku mengundang keluargamu untuk ikut makan malam di malam Natal nanti. Aku harap kamu bisa datang.

Aku ada acara. Maaf aku tak bisa datang.

Atau saat aku membutuhkannya, dia selalu ada untukku.

PR Matematika ini sulit. Kamu bisa membantuku?

Tentu saja. Kapan?

Gia, aku butuh peralatan melukis. Aku pinjam punyamu saja, ya.

Sebenarnya aku ada kelas melukis hari ini. Tapi kalau kamu butuh, baiklah aku tidak usah masuk.

Gia, tolong carikan buku sejarah di perpustakaan, Gia tolong bantu aku menyelesaikan tugas dari Mrs. Moore, Gia tolong ini, tolong itu. Dan selalu jawabannya sama: Iya. Tapi aku tidak pernah mengucapkan terimakasih. Aku mencari dia saat butuhnya saja, tapi dia selalu ada saat aku butuh atau tidak. Dan aku tak pernah ada di sisinya. Aku memang tak berguna.

Tapi dia tak pernah muncul. Tidak di sekolah. Tidak di gereja. Tidak di taman. Tidak ada dimana-mana. Belakangan aku baru tahu, dia pindah ke Alabama. Apa dia sengaja menghindariku? Nenekku tinggal disana, mungkin musim panas nanti aku bisa mengunjunginya. Tapi saat musim panas tiba, dia tidak ada di Alabama. Dia seperti menghilang. Entah kemana.

Saat aku lulus SMA, aku berkendara melewati sebuah pemakaman di selatan California. Pemakaman itu telah sepi, tapi ada sepasang orang setengah baya yang menangis dan masuk ke sebuah mobil. Dari kejauhan, aku mengamatinya, dan sepertinya aku mengenalnya. Itu orangtua Gia! Setelah bertahun-tahun aku hidup dalam rasa bersalah, dihantui perasaan kecewa yang berkepanjangan, takut, khawatir dan merasa tak berguna, akhirnya aku menemukannya juga. Aku menghampiri mobil itu, dan memperkenalkan diriku.

“George, sudah lama sekali,”ucap Mr. Anderson berusaha tersenyum, dengan kesedihan yang terlihat samar dari matanya.

“Kamu tambah tampan,”tambah Mrs. Anderson. Aku tertawa pelan. Wajah mereka yang keriput tampak sedih, mata mereka merah terlihat habis menangis. Tentu saja, mereka kan’ baru dari pemakaman.

Aku bertanya dimana Gia dan apa yang sedang mereka lakukan disini. Mereka mengajakku ke rumah mereka. Sambil minum teh yang bahkan belum sedikitpun kami sentuh, cerita itu keluar begitu saja dari mulut mereka.

“Gia sudah pergi, George. Dia pergi satu bulan yang lalu, setelah kami pindah dari Alabama. Dia punya kanker darah sejak kalian SMP, dan kurasa Tuhan sudah memberi cukup waktu terhadapnya. Kami bersyukur atas mujizat yang diberi Tuhan, dia mampu bertahan sampai satu bulan yang lalu. Dia masih sempat ulang tahun yang ke 17, bahkan dia masih sempat menulis novelnya. Kami bersyukur atas kesempatan-kesempatan itu, kesempatan yang begitu indah dan tak terhingga besarnya.”

Tak dapat dilukiskan betapa hatiku hancur setelah mendengar cerita itu. Tuhan bahkan tak memberiku kesempatan untuk meminta maaf padanya. Dan sekali lagi, aku merasa bersalah.

Saat pamit pulang, mereka memberiku sesuatu.

“Gia menitipkan ini untukmu. Kami tidak pernah membukanya, dan bahkan meragukan kalau kami bisa bertemu denganmu. Tapi dia bilang, suatu saat nanti, entah bagaimana caranya, surat ini pasti bisa sampai ke tanganmu. Dia selalu bercerita kau orang yang sangat baik. Jadi kau pantas menerimanya,”

Aku terkejut. Gia tak pernah bercerita tentang betapa brengseknya aku, tentang betapa jahatnya aku. Aku menerimanya dengan tangan bergetar, dia selalu percaya keajaiban, dan ternyata semuanya terjadi, sesuai harapannya.

Di rumah, aku membuka surat itu dan membacanya sampai menangis. Aku tak pernah tahu perasaannya, tak pernah mau tahu, dan sekarang akhirnya aku tahu juga.

Dear George,

Suatu saat kau akan menganggapku sahabatmu. Suatu saat kau akan mencariku. Suatu saat kau akan minta maaf padaku. Suatu saat kau akan menarik ucapanmu kembali. Aku percaya itu, sebab aku tahu kau orang yang begitu baik. Tapi jika saat itu datang, mungkin aku sudah tak ada lagi. Jika suatu saat itu datang, mungkin kau tidak akan punya kesempatan lagi.

Perlu kau ketahui, aku tidak bermaksud menghindarimu. Aku pindah karena ada kerabat keluarga disana yang mungkin bisa mengobatiku. Tapi Tuhan berkehendak lain. Mungkin memang beginilah jalannya.

Kalau saat itu tiba, maka aku akan menjawabnya:

Aku selalu menganggapmu sahabatku. Tidak akan pernah tidak.

Aku selalu ada jika kau mencariku. Disana, tepat didalam hatimu.

Aku selalu memaafkanmu. Aku selalu belajar untuk itu.

Aku tidak masalah jika kau menarik ucapanmu kembali.

Dan aku akan tetap percaya kau orang yang baik. Selalu, selamanya.

Maaf jika tak aku tak bisa membantumu lagi, saat mencari buku di perpustakaan, membantu tugas dari Mrs. Moore atau saat kau butuh alat lukisku. Aku benar-benar minta maaf.

George, tetaplah tersenyum. Tataplah masa depan dan percayalah akan keajaiban!

Tuhan selalu ada disampingmu.

Salam sayang,
Gia.

Airmataku berjatuhan. Hatiku terasa damai, merasa bahwa Gia berada disini, mendengarkan permintaan maafku dan telah memaafkanku. Aku merasakan genggaman tangannya menguatkanku. Ternyata aku salah tentang kesempatan untuk minta maaf itu. Tuhan telah memberikanku kesempatan itu.

George L. Judd

PENGORBANAN

Dalam suatu retreat yang pernah saya ikuti, ada suatu cerita berkesan yang membuat saya sangat terharu. Satu hari sebelum hari H, guru pendamping yang seharusnya ikut dalam retreat tersebut jatuh sakit. Kami semua sangat terkejut sebab beliau sangat antusias dan benar-benar mendukung kami untuk retreat ini.
Harapan yang semula muncul berbinar-binar kini cuma tinggal serpihan tak berarti. Kami semua sangat sedih dan membayangkan hal yang terburuk yang akan terjadi. Tapi apalah daya, beliau masuk rumah sakit hari itu juga dan akan menjadi suatu kemustahilan jika beliau hadir dalam retreat tersebut.
Saat itu saya hanya bisa membayangkan wajah beliau di rumah sakit. Saya yang antusias dengan retreat ini, jika mengalami hal seperti beliau saya pasti sudah gila. Terdengar berlebihan, ini hanya sebagai kiasan untuk menggambarkan betapa sedihnya saya jika menjadi beliau.
Selama dua hari kami ditempa untuk menjadi pribadi dengan karakter iman Kristen, dan hari pertama telah dilewati dengan sangat menyenangkan dan penuh kesan. Kami bercanda dan tertawa bersama, walau suasana masih belum cair karena kami belum saling mengenal satu sama lain, tapi sejauh yang saya tahu kami telah berusaha untuk bisa berbaur dan kami sama-sama penasaran satu sama lain.
Hari kedua, ketika kami semua sedang mendengarkan ceramah pagi di kapel, tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah sesosok berjaket hitam yang sangat saya hormati dan saya kenal. Beliau-lah guru pendamping itu. Sontak seluruh ruangan yang mula serius jadi berbinar dan suasana begitu ceria. Kami semua tersenyum gembira sekaligus tak percaya karena ia datang di saat yang tak terduga.
Ia kemudian menceritakan bagaimana ia berjuang untuk dapat kemari, sekalipun kondisinya masih belum sehat benar, bahkan untuk berjalan saja ia membutuhkan pegangan yang kuat.
Ia bercerita bahwa malam hari Kamis itu, ia masih dalam kondisi sehat. Tepat saat Jum’at pagi, ia terbangun dengan kaki kiri tak dapat digerakkan. Ia segera dibawa ke rumah sakit dan dirawat di ICU. Ia memaksakan diri untuk pergi ke tempat kami retreat hanya untuk melihat kami, namun menantunya tak mengizinkannya. Ia kemudian harus pulang paksa karena rumah sakit tak mempunyai cukup ruang lagi, dan ia harus kontrol secara rutin. Hari Minggu itu, ketika seluruh keluarganya pergi ke Gereja, sang guru itu naik ojek menuju tempat kami retreat, dan harus segera kembali sebelum semua keluarganya pulang.
Satu hal yang membuat saya ingin menangis tentang cerita yang sangat sederhana ini adalah, cara beliau menatap kami, caranya berjalan dengan tertatih, caranya datang kemari dan kata-katanya bahwa ia ingin melihat kami semua, dan saya yakin sekali wajahnya akan sangat senang melihat kami semua bergembira.
Tapi hidup berkata lain. Ia harus sakit dan tidak bisa datang untuk bergembira bersama kami. Dan ia tahu benar keadaannya, sementara ia terus bersikeras dan akhirnya sampai disini bersama kami. Ia rela mengorbankan rasa sakit untuk kami semua, dan ia tulus, tulus untuk semua itu. Ia patut mendapat penghargaan. Penghargaan dari kami semua, dari hati kami yang paling dalam.

Christanti Yosefa

KOTAK PANDORA

#Oleh: Christanti Yosefa

Di akhir musim dingin tahun 1950, Anna Mary-Lee sedang berjalan di sepanjang jalan pertokoan Fifth Avenue di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Ia berjalan terseok-seok pada dini hari, sekitar pukul satu malam. Anna sempat berhenti di salah satu toko untuk sekedar duduk, dan akhirnya tertidur sebab ia begitu mabuk dan mengantuk berat.

Sekitar pukul sembilan pagi ia terbangun di sebuah tempat mirip gubuk kecil yang nyaris pantas disebut rongsokan, dan matanya menyambut sepiring panekuk dan segelas susu hangat yang tampaknya mulai mendingin. Ia lalu mengambil piring panekuk itu dan mencuil kecil panekuknya menggunakan garpu, dan mengunyahnya pelan. Panekuk itu nyaris tidak ada istimewanya, hanya kue dadar yang terbuat dari terigu dan telur ayam. Rasanya hambar. Anna menaruh kembali panekuk itu dan meminum susunya.

Seorang bocah perempuan masuk kedalam gubuk itu, menemuinya dan tersenyum padanya.

“Selamat pagi,”sapanya kemudian. Anak itu memiliki rambut brunette yang cantik, di pipinya terdapat bintik-bintik kecil. Matanya berwarna cokelat gelap, dan rupanya anak itu masih berumur 12 tahun.

“Selamat pagi, bocah kecil. Mengapa kau datang ke rumahku?”

“Anda salah, Nyonya. Ini rumah saya. Kemarin Anda tertidur di depan toko Fifth Avenue, dan saya membawa Anda kemari. Anda kemarin mabuk berat.”

“Ha! Aku baru ingat. Aku terlalu banyak minum kemarin. Dasar Brian sialan, ia tak mengantarku pulang. Jadi aku pulang sendirian di tengah salju begitu. Dan Derek, dia malah mengusirku saat itu,”umpat wanita itu. “Tapi terimakasih, Nak, atas tumpangannya. Dan juga panekuknya. Saranku, beri sedikit gula atau madu supaya ada rasanya.”

Anak itu tersenyum. “Uangnya hanya cukup buat beli susu. Saya pikir Anda kedinginan,”

“Yeah, begitu saja juga enak,”kata wanita itu. “Aku harus pergi. Aku ingin segera menampar si Brian sialan itu. Terimakasih sekali lagi, Nak,”

“Berhati-hatilah, Nyonya. Di luar masih begitu dingin.” Anna menatap bajunya. Terlalu terbuka jika dipakai di musim dingin.

“Aku akan mengambilkan sweater ibuku. Mungkin bisa membantumu,”

“Ah, sekali lagi terimakasih, bocah manis. Siapa namamu?”

“Judy White, Nyonya.”

“Aku Anna. Dah,”

Anna Mary-Lee segera berlalu dengan terburu-buru setelah menerima sweater dari tangan Judy, si bocah manis itu. Judy menatap wanita itu, yang berangsur-angsur hilang di tengah salju.

Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, di tikungan Fifth Avenue, Judy melihat Anna kembali. Anna sedang duduk duduk di emperan toko, memeluk tubuhnya yang menggunakan sweater milik Ibu Judy.

Judy perlahan mendekati wanita itu, Anna Mary-Lee.

“Hai, Nak!”sapa Anna. “Baru tadi pagi kita bertemu, sekarang kita bertemu kembali. Kenapa setiap malam kamu selalu disini?”

“Hai, Nyonya,…”

“Ehm, namaku Anna Mary-Lee. Aku belum memperkenalkan diriku, ya. Hahaha…”Anna tertawa lebar. Matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Bahkan setengah tertutup. Ia begitu mengantuk. Tubuhnya sempoyongan meskipun sedang duduk. Ia rupanya begitu mabuk berat. Mulutnya sungguh bau. Gila, habis berapa gelas wanita ini?

“Nyonya Anna,”jawab Judy. “Aku baru akan pulang ke rumah. Ini Natal. Toko mainan sangat sibuk. Aku tidak akan membiarkan Tuan Costner bekerja sendirian. Seharusnya aku pulang sejak jam delapan tadi. Tapi kau tahu, kan. Ini Fifth Avenue. Pertokoan tersibuk di dunia ini. Kalau yang waktu itu, aku akan berangkat kerja pagi-pagi. Tuan Costner sudah begitu tua. Ia melarangku bekerja pagi hingga malam. Aku biasanya datang jam sepuluh. Tapi aku berhutang budi padanya. Aku tidak akan membiarkannya kelelahan.”

“Ehm, si tua Costner. Dia menawariku bekerja padanya. Tapi aku menolaknya.”

Judy terdiam.

“Jadi, kau bekerja padanya?”tanya Anna lagi.

“Ya, aku harus menghidupi diriku sendiri.”

“Mana orangtuamu?”

“Entah. Terakhir aku melihat ibuku pergi ketika aku berusia 10 tahun. Ayahku bahkan sudah menghilang sejak lama.”

“Kau tak bersekolah?”

“Tentu saja bersekolah.”

“Tapi, kau kan’ bekerja?”

“Ya, pihak sekolah tahu keadaanku,”

“Hidup ini memang keras, Nak.”

“Ya,”jawab Judy. “Lalu, mengapa kau selalu disini?”

“Aku terlibat dalam sindikat-yang-kau-tak-mengerti di Gerard Night Club.”

“Kau terlalu banyak minum, Nyonya,”

“Aku tahu. Tapi rasanya memang enak,”

“Itu kan’ tidak baik,”

“Hei, Nak, apa kau tahu kisah Kotak Pandora?”

“Ya,”jawab Judy.

“Semua telah terlanjur. Ketika kotak itu terbuka, semua kesedihan, kemiskinan, kecelakaan, kepahitan, telah keluar dan menyelimuti seluruh dunia. Kisah dengan akhir yang paling menyakitkan.”

“Kurasa kau belum selesai menceritakannya, Nyonya,”

“Apa?”

“Kau tidak tahu keseluruhan ceritanya, kan?”

“Tentu saja aku tahu. Akhirnya menyedihkan,”

Judy tertawa. “Akhir yang terbaik dan kau melewatkannya,”ucapnya.

Anna terdiam.

“Pandora membuka kotak itu dan seperti yang kau bilang – segala kepahitan, kesesakan, kemiskinan, penyakit, kematian, telah keluar dan menjejali seluruh dunia. Tapi ada sesuatu yang tertinggal dalam kotak itu, Nyonya. Ketika Pandora melihatnya, yang tersisa itu ialah, harapan.”

Anna terkejut. Matanya menatap Judy lekat-lekat. Anna pun berdiri.

“Waktunya memperbaiki diri,”ucapnya kemudian. “Harapan itu masih ada, kan?”

“Selalu tersedia harapan ditengah kemustahilan,”jawab Judy.

“Jadi, apa kau masih berharap ibumu datang?”

“Mungkin bukan itu, aku lebih berharap hidupku lebih baik dan bisa membantu Tuan Costner,”

“Mari pulang, Nak. Antar aku besok ke Tuan Costner. Aku sekarang tahu harapanku,”

“Menjadi rekan kerjaku?”

“Hahaha,”Anna tertawa. “Mungkin itu salah satunya. Tapi yang lebih penting, aku ingin hidupku lebih baik.”

Senyuman menghangatkan musim dingin yang telah dilalui dua orang yang masih berharap itu – yang selalu percaya adanya harapan ditengah kemustahilan.

***

Anna Mary-Lee meninggal tiga tahun setelah pertemuannya dengan Judy White, setelah melewati bertahun-tahun terikat dalam obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan minuman keras. Ia diketahui mengidap AIDS, dan tiga tahun terakhirnya telah dihabiskan menjadi keluarga kecil bahagia, sang kakek – Freddy Costner, sang anak – Anna dan sang cucu – Judy. Bertahun-tahun kemudian Freddy Costner masih bisa melihat Judy menjadi seorang dokter sebelum akhirnya menutup mata di tahun 1964.

Sudah Lama Tak Bicara

“Tolong katakan pada Kevin, temui aku sepulang sekolah nanti.”ucap Gia
pada kedua sahabatnya, Aya dan Asa.

“Oke,”jawab mereka, lalu pergi dan memberitahukannya pada Kevin.

Tak lama kemudian, Aya dan Asa kembali, memberitahukan pada Gia bahwa Kevin bisa ditemuinya nanti.

Sepulang sekolah, tepat di depan gerbang sekolah, Gia menanti Kevin dengan perasaan tak keruan. Antara bingung, ragu, sampai nggak tahu harus bicara bagaimana nanti. Padahal,
Gia sudah menyiapkannya sejak malam  tadi. Kalau semuanya gagal, ya sudah.
Paling-paling Gia cuma bisa meringis.

“Hai…”sapa seseorang di belakang. Gia menoleh.

“Ya? Oh, hai, Vin…”jawab Gia dengan terbata.

“Mau bicara tentang apa?”tanya Kevin memulai pembicaraan.

“Kita sambil jalan saja, yuk. Aku sekalian pulang.”

“Boleh. Mau naik sepedaku?”tawar Kevin.

“Wah, nggak perlu… Aku jalan saja, bikin kuat, hehe…”Gia nyengir sambil menirukan gaya binaragawan.

“Hehe,…”Kevin tertawa. “Terserah kamu saja, deh.”

“Oke.”

“Jadi, apa yang mau kamu bicarain?”tanya Kevin sambil mengayuh sepedanya pelan-pelan.

“Nggak begitu penting, sih. Tapi lumayan penting juga buatku. Kamu nggak sibuk?”tanya Gia.
Rasanya agak canggung.

“Nggak apa-apa. Aku nggak sedang sibuk,”

“Oke. Sebenarnya, aku cuma mau tanya. Kapan ya, terakhir kali kita bicara sebelum ini?

Deg!

Sontak raut wajah Kevin berubah. Ia terdiam agak lama, menyadari kalau arah pembicaraan
ini ditujukan kepada hubungan mereka berdua.

“Seingatku… Terakhir kita bicara itu waktu kita sama-sama jadi panitia retret di sekolah,”jawab Kevin,
terdengar pelan.

“Wah, lama sekali, ya. Kalau tidak salah sudah dua bulan yang lalu,”sindir Gia.
“Sebenarnya dua bulan itu cepat, Vin. Tapi, selama dua bulan kita lost communication,

itu yang bikin lama,”tambah Gia lagi.

“Kalau masalah ini sih, penting banget, Gia. Kita harus bicara. Kamu mau ikut aku ke bukit kesukaanku?”

“Boleh.”

Kevin mengajak Gia ke bukit kecil dekat rumahnya, tempat kesukaan Kevin selain

nongkrong di depan video games atau PS3 di rumahnya.

“Sekarang, ayo kita bicara,”ucap Kevin.

“Aku sudah bilang, Vin. Selama ini kita nggak pernah ngomong-ngomong lagi. Iya, kan?

Kamu udah lupa sama yang dulu-dulu?”

“Tentu aja enggak, Gi. Aku masih ingat betul. Aku kangen caramu bicara soal film, atau hal-hal yang kamu suka lainnya,”

“Aku ingat betul caramu mengajariku tentang sepak bola. Kamu pasti nggak tahu sekarang aku jatuh cinta dengan olahraga itu,”

“Oya?”mata Kevin terbelalak. “Yang betul?”

“Tentu saja, Vin.”jawab Gia dengan semangat. “Aku nge-fans sama Lionel Messi.”

“Wah, hebat.”

“Haha,…”

“Kalau dipikir-pikir, aneh juga, ya, Gi. Kita sama-sama sekolah di sekolah yang sama, sama-sama kenal, tapi jarang bicara. Aku masuk kelas lain, kamu terpisah di kelas lain. Dan rasanya, seperti ada yang hilang.”

“Waktu kita tinggal dikit, Vin. Bentar lagi kita bakal pisah, menuju sekolah impian masing-masing, meraih cita-cita masing-masing dan itu tandanya frekuensi pertemuan kita bakal berkurang banyak,”kata Gia.

“Aku nggak mau kita pisahan. Kita harus satu sekolah.”

“Satu-satunya cara adalah kita harus sama-sama belajar apa yang kita inginkan. Dulu kamu bilang mau masuk SMA, kalau gitu ayo kita sama-sama giat belajar, biar bisa masuk SMA yang sama.”

“Oke, Gi. Aku janji. Tapi gimana kalau enggak…?”

“Kita nggak tahu apa yang ada di depan, Vin. Sekarang, yang penting kita menikmati setiap menit yang ada, supaya kita nggak menyesal jika kita melewatkannya.”

“Aku nggak mau melewatkan sedetik pun, kita harus lebih sering ketemu, belajar bareng, dan kita harus selalu ngomong. Sapa-sapa’an, kek, pokoknya harus selalu ngomong!”semangat Kevin tampak berapi-api.

“Oke-oke… Kita harus selalu bicara! Janji nggak boleh diem-dieman…”

“Sip!”

Sore itu, Kevin membonceng Gia menuju rumahnya yang tak seberapa jauh itu. Mereka begitu berbahagia. Sepanjang jalan penuh senyum, kadang tertawa, tapi lebih banyak diselingi diam. Diam kebahagiaan. Semuanya terdiam. Tapi tak apa, semuanya terasa ringan. Semua sudah dibicarakan, dan masalah ada jalan keluarnya. Bagaimanapun nanti, sekalipun mereka harus selalu berkomunikasi.

Sesungguhnya, ada hal yang mau dibicarakan Kevin. Selama ini, dia dalam diam menyimpan sesuatu yang harus diutarakan. Tapi, Gia pernah bilang, dia nggak bakal pacaran sampai lulus dengan nilai baik di SMP. Jadi lebih baik, Kevin memendam perasaan terhadap sahabatnya itu, sampai menanti saatnya tiba untuk mengutarakannya.[]

Amazing! Sigourney Weaver Hidup Lagi!

Setelah dinyatakan meninggal di film Avatar pertama, Sigourney Weaver hidup lagi di sekuel Avatar. Di Avatar kedua, Sigourney Weaver digaet kembali oleh sang sutradara, James Cameron, untuk bermain kembali. Sigourney dan James memang sudah lama bekerja sama dalam sepanjang proyek perfilman Hollywood. Sebut saja film Aliens pada tahun 1986.
Meskipun dihidupkan kembali, tokoh Dr. Grace Augustine yang diperankannya ternyata tetap mati. Namun, Sigourney dijanjikan diberi peran lain yang lebih menantang.
“Kami berdua adalah teman dekat dan mampu bekerja sama dengan baik. Rasanya menyenangkan bisa mengajak dia sekali lagi untuk film Avatar,” ujar James sembari tersenyum.
Keduanya tak ingin melakukan pengulangan plot dari film pertama. James dan Sigourney berjanji memberi gubahan baru untuk Avatar terbaru ini. “Tunggu, ya. Kami sedang menyiapkan sesuatu yang kreatif dan menantang, yang bakal jadi kolaborasi keren kami berdua,”ungkap James.
Meskipun belum boleh menceritakan peran barunya, namun Sigourney memberi bocoran pada kami tentang rahasia dirinya.
“Belum boleh banyak bicara. Yang jelas peran ini baru dan berbeda, sebuah kolaborasi keren yang terbaru dari diri saya,”goda Sigourney.
Well, tunggu saja peran seperti apa yang akan ia bawakan nanti. Yang pasti, ia akan kembali beradu akting dengan Sam Worthington, Stephen Lang dan juga Zoe Saldana. Tunggu sekuelnya rilis Desember 2016, ya.

Seonggok Jagung

Ratri menatap setumpuk buku di meja belajarnya. Masih ada waktu 2 jam lagi untuk mempelajari keseluruhan isi buku, sebelum jam sembilan nanti ia pergi tidur. Ratri menghela napas. Ia begitu lelah. Matanya terasa berat. Tapi mau tidak mau, ia harus tetap membacanya. Ratri tak mau mengambil resiko. Ia teringat sentakan bapak dan tangan kerasnya yang siap diterimanya apabila ia tidak belajar.

Hidup memang terasa berat. Ratri sadar akan hal itu. Bapaknya melarangnya untuk berekspresi, berkarya, dan berkembang di bidangnya sendiri. Ratri ingin menjadi seorang penjahit, pemilik butik, atau designer, tapi kehendaknya tak pernah didengar Bapak. Beliau menginginkan anaknya bekerja di Schlumberger, atau perusahaan bergengsi lainnya. Tapi tidak untuk menjadi seseorang yang tidak menghasilkan apa-apa. Yang benar saja! Bapak terlalu mengada-ada.

Dengan gerakan lambat dan malas, Ratri membuka kembali bukunya. Besok tidak ada ulangan. Besok tidak ada PR. Karna besok… libur. Besok hari Minggu. Ini waktunya Ratri untuk refreshing, tapi Bapak tetap menyuruhnya belajar. Bapak cuma membolehkannya untuk bermain saat libur sekolah, paling tidak satu jam sehari. Ratri menahan napas. Lelah sekali rasanya.

“Ratri? Nduk…”terdengar suara Bapak mengetuk pintu.

“Ada apa, Pak?”

“Kamu sedang apa?”

“Belajar, Pak. Kan’ tadi Bapak yang menyuruh saya…”

“Oh, ya sudah kalau begitu. Bapak tinggal dulu, ya…”

“Iya, Pak.”

Ratri mendengus dongkol. Kenapa Bapak tak pernah mau mengertinya? Ratri perlahan meraih hasil sulamannya. Ini yang ia ingin kerjakan sekarang. Bukan membaca buku setiap waktu.

***

Hari kelulusan. Ratri sudah lulus kuliah. Ia cuma tinggal mencari pekerjaan, lalu mengatur hidupnya, merasakan kebahagiaan, dan mati dalam kedamaian. Yah, biasa saja. Cuma itu, kan?

Ratri mencoba melamar ke Schlumberger, dan ia berhasil diterima. Sekitar 30 tahun ia bekerja disana, tapi tak jua ia mendapatkan posisi yang tinggi di kantornya. Cuma di tengah-tengah. Ia pulang ke daerahnya dengan kekecewaan dan kepahitan.

Ratri mencoba menjelaskan, bagaimana ia bisa mendapatkan apa yang bapaknya inginkan? Kalau hanya menjadi sekecil sekrup di perusahaan sebesar itu.

Setelah pensiun, Ratri mencoba menata kehidupannya di kampung. Tapi, Ratri tak mampu menerapkan pendidikan yang sudah didalaminya bertahun-tahun. Ia buta terhadap kehidupan. Ia hanya mengerti rumus, hafalan, kesimpulan, tanpa kesempatan untuk menyadari luasnya kehidupan. Ia tak bisa menjawab persoalan kehidupan. Ia bungkam dan merasa asing, sepi. Ia tak bisa berkutik di sulitnya persoalan.

***

Seonggok jagung di kamar, takkan mampu menyelamatkan seorang wanita, yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku, dan tidak dari kehidupan…

Disadur dari Puisi karya W.S. Rendra:
SEONGGOK JAGUNG

Question

Ada yang tanya…. “Seminggu berapa kali sih kepala depan Taylor Swift nya diganti?”

Jawabanku : “Yaa nggak tau… Makanya setiap hari buka Dunia Hoolywood, siapa tau tiba-tiba udah ganti… Haha #ambigu”

Stay tune,
Dunia Hoolywood 🙂

EDISI BULAN INI!!!

HEIIILLLOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Bulan Oktober ini, siap-siap mejeng di depan blog Dunia Hoolywood, karena kamu bakal nggak bosen2nya ngelihat timeline Dunia Hoolywood, yang bakal terus menerus pake wallpaper Taylor Swift sebagai kepala depan!

Stay tune,
Dunia Hoolywood 🙂